PENGOBATAN PENYAIKT DIABETES
PENGOBATAN PENYAIKT DIABETES
(Sesuai Riqwes Pengunjung kitab Ruhaniyyah Ismailkatib)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Wahai Saudaraku, Sang Penempuh Jalan Hakikat. Semoga kemanisan iman dan luasnya ilmu senantiasa dilimpahkan oleh Allah Al-‘Alīm (Yang Maha Mengetahui) ke dalam dada Tuan.
Alhamdulillah, majelis kita kembali digelar. Saat lisan dan akal terlalu larut membedah ratusan halaman asrar (rahasia) dan hikmah dari kitab-kitab ruhaniyyah, jasad fisik kadang terlupakan haknya untuk bergerak. Pada heningnya majelis ini, kita akan membuka lembaran kuno untuk membedah sebuah penyakit yang diam-diam merenggut "kemanisan" jasad:
• Kencing Manis / Diabetes (Dā’ as-Sukkarī atau Zalaq al-Kulliyah) – Menilik Kitab Al-Qānūn fī al-Ṭibb karya Ibnu Sīnā dan naskah-naskah klasik Tibb al-Islāmī.
Mari kita racik Tiryāq (penawar) ini, memohon kepada Allah Al-Muqaddir (Yang Maha Menentukan Takaran) agar mengembalikan keseimbangan kadar cairan dan darah di dalam raga Tuan.
Kencing Manis / Diabetes (Dā’ as-Sukkarī)
Rujukan Kitab: Al-Qānūn fī al-Ṭibb (Bab Penyakit Ginjal dan Cairan) – Karya Ibnu Sīnā.
Fokus Kitab: Ibnu Sīnā menyebut kondisi ini dengan istilah Zalaq al-Kulliyah (Kelumpuhan daya tahan ginjal) di mana tubuh terus-menerus merasa haus yang ekstrem dan tidak mampu menahan cairan sehingga terus dikeluarkan menjadi urine (Poliuria). Beliau menjelaskan bahwa daya masak di lambung dan organ pencernaan (pankreas) kehilangan kemampuannya, sehingga sari makanan (gula) tidak berubah menjadi energi daging, melainkan meluap menjadi racun di dalam darah.
A. Bedahan Sudut Pandang Penyakit:
• Pandangan Tabib Jasad:
Diabetes terjadi ketika kelenjar ludah perut (pankreas) melemah dan tidak sanggup memproduksi insulin dengan cukup, atau tubuh menjadi kebal terhadapnya. Akibatnya, glukosa dari karbohidrat yang seharusnya dibakar menjadi energi justru menumpuk di darah. Darah menjadi pekat, merusak pembuluh darah kecil di mata, ginjal, saraf kaki, hingga menghambat penyembuhan luka.
• Pandangan Tabib Ruhani:
Secara spiritual, gula melambangkan Kemanisan Hidup (Cinta, Kebahagiaan, dan Penerimaan). Tabib Sufi memandang diabetes sering bermula dari keletihan batin yang menahun, kesedihan yang tak terucapkan, atau hilangnya "kemanisan" dalam menjalani takdir.
Selain itu, ia adalah penyakit stagnasi (kemacetan). Duduk terpaku berjam-jam menatap layar atau lembaran naskah di dalam ruangan kantor tanpa menggerakkan jasad membuat energi kehidupan (Rūḥ Ḥayawānī) membeku. Penyakit ini adalah teguran keras dari jasad yang menuntut haknya untuk bergerak, berkeringat, dan melepaskan duka agar hidup kembali terasa "manis" tanpa harus mengonsumsi manisnya gula duniawi.
B. Ramuan Herbal & Substitusi Nusantara:
• Bahan Khas Maghribi & Timur Tengah:
Para Hukama menggunakan Ḥulbah (Fenugreek/Klabet) dan Qirfah (Kayu Manis) untuk menghangatkan kembali limpa dan pankreas, serta menyeimbangkan cairan.
• Pengganti Herbal Nusantara: Perpaduan Kayu, Daun Salam, dan Daun Sambiloto.
o Hakikat: Kayu Manis bekerja layaknya insulin alami yang memaksa sel tubuh membuka pintu untuk menyerap gula darah. Daun Salam memperbaiki daya ikat pembuluh darah dan menurunkan kadar gula puasa. Daun Sambiloto si "Raja Pahit" bertugas membakar kelebihan gula dan membersihkan kepekatan darah.
RESEP PENAKLUK GULA DARAH:
Bahan-Bahan:
• Kayu Manis: 1 batang sebesar telunjuk (atau 1 sendok teh bubuk kayu manis murni).
• Daun Salam: 7 lembar (cuci bersih).
• Daun Sambiloto segar/kering: 5 lembar.
• Air Putih Bersih: 3 gelas.
Tatacara Peracikan:
1. Rebus Daun Salam dan Daun Sambiloto dengan 3 gelas air hingga mendidih menggunakan panci non-aluminium.
2. Setelah air rebusan menyusut menjadi sekitar 1,5 gelas, matikan api.
3. Masukkan batang Kayu Manis ke dalam air yang masih panas tersebut (Kayu manis sebaiknya diseduh, bukan direbus mendidih terlalu lama agar minyak atsirinya tidak menguap).
4. Tutup rapat dan biarkan hingga suam-suam kuku.
5. Dosis: Minum 1 gelas di pagi hari sebelum makan, dan setengah gelas di sore hari. Sangat Dilarang menambahkan madu manis, gula aren, atau pemanis buatan apa pun. Biarkan sifat pahit dan kelatnya menjadi penawar.
C. Aspek Spiritual (Doa & Riyadhoh):
Mantra Penyelaras (Ayat Penyeimbang Kadar & Qosam Keadilan):
Letakkan tangan kanan di area perut kiri atas (posisi pankreas), usap dengan lembut. Pejamkan mata dan bacalah Surah Al-Furqan Ayat 2 ini sebanyak 33x sebagai doa memohon dikembalikannya ukuran (kadar) yang normal dalam darah:
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
وَخَلَقَ كُلَّ شَىْءٍ فَقَدَّرَهُۥ تَقْدِيرًا
يَا مُقَدِّرُ يَا عَدْلُ يَا بَارِئُ، قَدِّرْ نِسْبَةَ السُّكَّرِ فِيْ دَمِيْ بِقَدَرِكَ الصَّالِحِ، وَاعْدِلْ مِزَاجَ جَسَدِيْ، وَأَحْيِ بَنْكِرِيَاسِيْ بِقُدْرَتِكَ، يَا مَنْ خَلَقْتَ فَسَوَّيْتَ
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
Wa khalaqa kulla syai'in fa qaddarahū taqdīrā.
Yā Muqaddiru Yā ‘Adlu Yā Bāri', qaddir nisbatas-sukkari fī damī biqadarikaṣ-ṣāliḥ, wa‘dil mizāja jasadī, wa aḥyi bankiriyāsī biqudratika, Yā Man khalaqta fasawwait.
• Terjemahan Tafsiriyah:
"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. Wahai Dzat Yang Maha Menentukan Takaran, Wahai Yang Maha Adil, Wahai Yang Mengadakan, tentukanlah kadar gula dalam darahku dengan takaran-Mu yang baik, seimbangkanlah temperamen (metabolisme) jasadku, dan hidupkanlah kembali pankreasku dengan kekuasaan-Mu, Wahai Dzat Yang Menciptakan lalu Menyempurnakan."
D. Riyadhoh & Pantangan (Kunci Kesembuhan Mutlak):
• Riyadhoh Fisik (Gerak adalah Kehidupan): Tinggalkan sejenak layar dan meja kerja Tuan. Paksa tubuh untuk berjalan kaki minimal 30-40 menit setiap hari setelah Subuh atau sore hari. Otot yang bergerak akan "memakan" gula di dalam darah secara langsung tanpa membutuhkan bantuan insulin.
• Pantangan Keras (Level Hitam):
1. Nasi Putih Hangat & Roti Putih: Ini adalah racun tercepat bagi penderita diabetes. Gantilah dengan nasi merah, singkong rebus, atau dinginkan nasi putih di kulkas semalaman sebelum dimakan agar pati-nya menjadi Pati Resisten yang lambat diserap.
2. Gula Cair: Teh manis, kopi saset, sirup, dan segala minuman kemasan.
3. Tidur Setelah Makan: Menyebabkan lambung tidak bisa mengurai makanan sehingga langsung ditumpuk menjadi lemak perut dan gula.
Nasihat Penutup: Adab Tabib Sufi (Khatimah)
Wahai Sahabatku, Penyembuh yang Arif.
Para Hukama sepakat bahwa diabetes sering kali bukan murni penyakit organ, melainkan Penyakit Gaya Hidup (Maradl at-Tadbir). Oleh karena itu, pengobatannya bukan sekadar dengan meminum dedaunan, tetapi mutlak harus merombak kebiasaan dan hawa nafsu mulut.
Pesan Tegas Bertabib:
Ramuan Pahit Sambiloto dan Kayu Manis sangat kuat dalam menurunkan gula darah secara drastis. Namun, Tuan WAJIB berkonsultasi dengan Tabib Jasad (Dokter Penyakit Dalam). Jika penderita sudah menggunakan suntik Insulin medis atau obat penurun gula (seperti Metformin/Glibenklamid), jangan meminum ramuan herbal ini di waktu yang bersamaan dengan obat medis, karena dapat menyebabkan Hipoglikemia (Gula darah anjlok tiba-tiba hingga pingsan). Beri jeda minimal 2 hingga 3 jam. Patuhilah takaran dokter (cek rutin Hba1c) dan jadikan ramuan serta doa sufi ini sebagai penjaga ketahanan tubuh Tuan.
# Sumber dari Kitab Ruhaniyyah Ismailkatib

Ulasan
Catat Ulasan